Menemukan Makna Wukuf Di Arafah

Selama di Arafah kami tidur di dalam tenda-tenda kain yang sifatnya sementara. Setelah masuk waktu Dzuhur tanggal 9 Dzulhijjah 1432H, Khatib menyampaikan khutbah Arafah di tenda masing-masing dan dilanjutkan sholat Dzuhur dan Ashar. Saat wukuf (diam) di Arafah dimulai sampai Matahari terbenam.

Aku langsung mengeluarkan tiga lembar kertas print out yang aku siapkan dari rumah. Lalu aku baca terlebih dahulu halaman satu yang berisi daftar nama teman-teman di Tanah Air yang minta dipanggil agar dimudahkan ke Baitullah.

Selanjutnya, halaman dua dan tiga berisi doa untuk pribadi dan keluarga serta permintaan doa khusus dari teman-teman yang disampaikan secara langsung maupun melalui media elektronik. Terus baca istighfar, hamdalah, dan seterusnya. Aku terus merenung apa makna wukuf di Arafah ini? Di sini ada Jabal Rahmah, tempat bertemunya Nabi Adam AS dan Siti Hawa.

Waktu Ashar telah lewat, aku masih belum menemukan makna wukuf di Arafah. Saat menjelang Maghrib, aku panggil istri dan aku ajak berdoa bersama. Ketika sampai aku membaca,”…Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqiina imaman. Rabbij’alni muqiimashshalaati wa min dzurriyati Rabbana wataqabbal du’a….” (Ya Allah, jadikanlah istri dan anak-anakku menjadi penyejuk mata dan jadikanlah kami pemimpin orang-2 yg bertaqwa. Ya Allah, jadikanlah aku penegak shalat dan juga keturunanku. Ya Allah terimalah do’a kami), aku mulai terbata-bata dan meneteslah air mata.

Rupanya, setelah penguatan Tauhid saat Thawaf keliling Ka’bah dan kesadaran bahwa manusia-manusia itu umat yang satu, serta tekad bergerak berikhtiar saat Sa’i, maka saat Arafah adalah saat membangun keluarga sebagaimana Adam dan Hawa.

Wuquf di Arafah adalah berdiam di dunia nyata, tempat membangun keluarga, merasakan manis-pahitnya kehidupan. Kita menerima takdir telah dilahirkan di muka bumi tanpa kita minta, tanpa kita memilih siapa ayah/ibu kita. Mungkin kita lahir dari ayah seorang presiden, seorang pengusaha sukses, atau mungkin seorang kuli bangunan, tukang becak, pemulung, bahkan penjahat.

Lalu, untuk apakah hidup di dunia yg dijatah umur sekitar 60 tahun? Sementara bumi sendiri berusia jutaan tahun. Apakah kita disuruh Allah membangun “Piramid” kemegahan? Apakah kita disuruh Allah mengumpulkan emas segunung Uhud? Apakah seseorang hanya sekedar ingin melayani orang lain sebaik-baiknya? Apakah seseorang ingin menindas orang lain demi menjaga hidupnya? Aku yakin, masing-masing orang akan menemukan visi dan misi hidupnya sendiri.

Setelah matahari terbenam, jamaah haji diperintahkan meninggalkan Arafah menuju Muzdalifah berjarak 6 km, bahkan jamaah tidak boleh menginap di Arafah setelah wukuf. Sedemikian sebentarkah dunia itu? Baru 60 tahun di bumi, dicabut nyawa kita dan diperintahkan terus berjalan ke fase berikutnya.

Di fase Muzdalifah, kita berpakaian ihram seperti kain kafan, tidur di padang batu kerikil, melihat bulan dan bintang sampai lewat malam, angin bertiup kencang. Ya Allah, tunjukkanlah apa maknanya semua ini? Apakah seperti ini rasanya bangkit dari kubur?

Kafilah haji terus bergerak ke Mina sejarak 3 km dari Muzdalifah. Kami masuk tenda putih yang lebih permanen di maktab 27. Pasukan selanjutnya berjalan menuju Jumrah Aqabah sejarak 3 km. Dengan mengucapkan, ”Bismillahi Allahu Akbar!” tangan melempar “senjata” batu kerikil ke arah berhala Aqabah, berhala yang paling besar dengan tujuh tembakan. Lalu pasukan kembali ke tenda. Gerakan tubuh melempar dan seruan takbir benar-benar membangkitkan emosi. “…dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh ia musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah/2:208)

Teman saya bilang, ”Bagiku, itu bukan melempar setan, melainkan mengeluarkan sifat-sifat syaithaniyah dari dalam diri kita.” Oke-oke, bagus juga dimaknai positif begitu…

Setelah pasukan sampai di tenda, rambut digunting, lalu mandi dan melepas pakaian ihram dan memakai pakaian biasa. Makan bersama, saling berbagi pengalaman masing-masing, istirahat. Besok pagi dan lusa masih harus berperang lagi. Bahkan senjatanya setiap hari 21 “peluru”, sebab harus melempar 3 berhala, Jumrah Ula (small), Jumrah Wustha (middle), dan Jumrah Aqabah (big). Perang dengan setan itu tidak sehari selesai, melainkan setiap hari sampai ajal menjemput kita.

Salam,
Heri Mustofa
Jama’ah Haji Indonesia 2011
Makkah, 16 Dzulhijjah 1432H
Alumni FT Sipil UNS ‘83

NB : Terlampir foto saat di Arafah

Banner MasjidAlFath.com

iklan-tokosarung
banner-pai-1